Breaking

Selasa, 01 Mei 2012

AWAS !!! DIABETES MENGINCAR PEKERJA KANTORAN !!!

Pekerja kantoran yang hanya duduk di kursi sepanjang harinya banyak dicita-citakan orang. Pekerjaan seperti itu terlihat mudah dan nyaman karena hanya menghadapi komputer, kertas, dan berada di ruangan berpenyejuk udara.

Meski terlihat nyaman, pekerja kantoran memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit. Beberapa penyakit yang mengintai pekerja kantoran adalah sakit punggung, kanker usus, serangan jantung, penggumpalan darah, kegemukan, dan diabetes.

Hasil penelitian terbaru yang dilakukan Harvard School of Public Health menunjukkan bahwa orang yang berolah raga kurang dari 150 menit sehari memiliki risiko penyakit jantung koroner lebih rendah daripada orang yang tidak berolah raga sama sekali.

Adapun hasil penelitian yang dilakukan Univesitas Missouri AS menyebutkan para pekerja kantoran yang kurang banyak melakukan gerakan fisik memiliki risiko tinggi penyakit diabetes. Pasalnya, pekerja kantoran kurang aktivitas fisik ketimbang pekerja lapangan. Mereka juga banyak makan di tengah aktivitas fisik yang kurang seimbang dengan apa yang dikonsumsi.

Diabetes terjadi karena para pekerja kantoran mengalami kegemukan dan terjadi penumpukan lemak pada hati sehingga memicu terjadinya resistensi insulin yang dapat memacu terjadinya diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 terjadi ketika sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin yang diproduksi. Sedangkan diabetes tipe 1 disebabkan oleh kurangnya insulin karena sel untuk memproduksi insulin telah dibunuh atau dihancurkan.

Makanan cepat saji yang dikonsumsi para pekerja kantoran turut menaikkan berat badan. Orang gemuk, menurut dokter ahli diabetes, memiliki risiko lebih tinggi terserang penyakit diabetes. AS memiliki data yang lengkap soal ini. Data American Diabetes Association menyebutkan 8,3 persen penduduk AS mengidap diabetes dan beberapa di antaranya terjadi pada pekerja kantoran.

Menurut John Thyfault, asisten profesor di bidang nutrisi dan pelatihan fisikologi Universitas Missouri, pekerja kantoran memiliki risiko diabetes tipe 2. Diabetes ini memiliki ciri pankreas masih dapat menghasilkan insulin namun tubuh membentuk kekebalan sehingga bisa dikatakan tubuh mengalami kekurangan insulin.

Penelitian menyebutkan selama duduk bekerja, tingkat aktivitas menjadi menurun. Masa ini disebutkan dengan masa tidak aktif. Pasalnya, mereka para pekerja kantoran melangkahkan kakinya tidak lebih dari 5.000 langkah per harinya.

Sebaiknya setiap harinya, kita melangkah lebih dari 10.000 langkah agar badan menjadi sehat karena terbakarnya kalori dalam tubuh. Kurang dari angka tadi akan meningkatkan risiko diabetes. Thyfault mengatakan seandainya banyak pekerja kantoran mau menambah gerakan mereka secara rutin, akan mengurangi risiko diabetes.

"Apabila dilakukan dalam jangka panjang, maka akan mencegah kenaikan berat badan lebih lanjut yang meningkatkan risiko diabetes," katanya.

Thyfault mengatakan melakukan 5.000 langkah tambahan terasa berat buat seseorang. Namun jika sudah dijalani, akan terasa lebih ringan. Menggunakan tangga ketimbang lift, atau berjalan keluar ketika makan siang daripada memesan makanan lewat office boy, akan menambah langkah yang menyehatkan.

 
Perlu Menambah Aktivitas Fisik

Bagi mereka yang aktivitasnya hanya didominasi duduk di meja selama berhari-hari dalam jangka waktu lama, mulai sekarang harus berhati-hati. Bermacam studi menunjukkan bekerja dengan lebih banyak duduk di kursi meningkatkan risiko diabetes serta penyakit lainnya.

Mark Tremblay, Direktur Hidup Sehat Aktif dan Peneliti Obesitas pada Rumah Sakit Eastern Ontario Research Institute, Kanada, mengatakan gaya hidup robot dengan hanya menghabiskan waktu selama 30 menit untuk aktivitas fisik akan menghabiskan waktu 23,5 jam. Sisanya berpangku tangan tidak akan memberikan manfaat bagi kesehatan.

Ia menambahkan banyak penelitian tentang aktivitas fisik, tapi tidak memperhatikan sisa harinya digunakan untuk apa. Para peneliti di rumah sakitnya membedah bagaimana aktivitas fisik dijalankan dan membedah bagaimana gerakan dilakukan dan dapat berpengaruh pada kesehatan. "Budaya mari duduk membicarakan segala hal harus diubah dengan 'mari berjalan' dan berbicara tentang segala hal," kata Tremblay.

Hasil studi lain yang dilakukan pada 120.000 orang Australia menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan orang untuk duduk, akan semakin besar kemungkinan mereka meninggal dunia, termasuk disebabkan oleh diabetes.

Sebuah studi yang dilakukan pada orang Asia Selatan menunjukkan mereka lebih berisiko mengidap penyakit diabetes tipe 2 ketimbang orang-orang dari wilayah lain. Studi baru yang didanai oleh National Prevention Research Initiative (NPRI), dari Universitas Glasgow and Edinburgh Skotlandia, lebih dari 1.200 orang keturunan India dan Pakistan memiliki tingkat gula darah tinggi.

Ketua tim penelitian, Dr Jason Gill, dari Institute of Cardiovascular and Medical Sciences pada Universitas Glasgow, menjelaskan orang Asia yang tinggal di Inggris memiliki risiko lebih tinggi pada diabetes tipe 2.

"Rata-rata penyakit berkembang sekitar 10 tahun bagi orang Asia bila dibanding orang Eropa pada tataran usia yang sama yang perkembangannya lebih dari 10 tahun," katanya.

Alasan ilmiahnya, jumlah lemak pada pinggang orang Asia Selatan lebih tinggi daripada orang kulit putih. Tapi yang lebih jelas, kebiasaan orang keturunan Asia Selatan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk duduk menjadi alasan risiko diabetes pada populasi Asia.

 
Kenali Gejalanya Lebih Dini

Mereka yang berisiko terkena diabetes adalah yang mengalami obesitas dengan aktivitas fisik yang rendah di samping faktor gaya hidup dan keturunan. Jika terlambat diketahui dan ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan kematian dan kecacatan fisik karena efek komplikasinya.

Gejala diabetes tipe 1 sering buang air kecil, rasa haus, berat badan menurun, dan lelah. Sedangkan diabetes tipe 2 ditandai dengan pelihatan kabur, sering infeksi, mati rasa, dan penyembuhan luka yang lambat.

Poliuri atau sering buang air kecil pada malam hari karena kadar gula darah melebihi nilai ambang ginjal, yaitu lebih dari 180 miligram/per desiliter (mg/dl), merupakan gejala diabetes tipe 1. Untuk menghindari urine yang tidak terlalu pekat, tubuh menarik semua cairan ke urine sehingga kencing menjadi semakin sering.

Urine yang keluar untuk mencegah kepekatan membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Akibatnya, penderita menjadi sering haus dan ingin minum terus-menerus.

Gejala selanjutnya yang dialami penderita diabetes adalah nafsu makan yang tinggi. Sayangnya, hal itu tidak diikuti dengan peningkatan energi, sebab energi yang masuk ke sel tubuh tidak banyak karena terhambat kekurangan insulin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar